GARUTNEWSTODAY.ID – Garut – Perubahan iklim yang ditandai dengan kemarau panjang dan kekeringan menjadi perhatian serius Masyarakat Kawung Indonesia (MKI). Kondisi tersebut dinilai berdampak terhadap berbagai sektor, mulai dari pertanian, kehutanan, hingga upaya pemulihan kawasan lahan kritis dan rawan longsor.
Presiden Masyarakat Kawung Indonesia (MKI), Jo Santosa, menyampaikan kepada garutnewstoday bahwa perubahan pola iklim perlu direspons melalui aksi nyata, bukan sekadar wacana. Salah satu langkah yang didorong MKI adalah memperkuat gerakan penanaman kembali pohon, khususnya aren atau kawung, di kawasan yang memiliki karakteristik sesuai untuk pertumbuhannya.
Menurutnya, kemarau panjang yang dikaitkan dengan fenomena El Niño dapat menyebabkan kekeringan lahan dan berpengaruh terhadap jadwal kegiatan pertanian maupun kehutanan. Kondisi lahan yang terlalu lama mengalami kekeringan juga dapat menjadi tantangan dalam kegiatan penanaman pohon, penyediaan vegetasi hijauan, hingga pemulihan kawasan kritis dan rawan longsor.
“Perubahan iklim berdampak terhadap siklus lingkungan. Karena itu, MKI berusaha mengambil tindakan atau aksi konkret yang dilakukan secara berangsur-angsur, salah satunya melalui kerja sama penanaman kembali lahan atau kawasan yang sesuai dengan karakter pohon aren atau kawung,” ujar Jo Santosa.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, MKI berencana membangun kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Salah satu lokasi yang menjadi bagian dari rencana aksi tersebut berada di Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.
Dalam kegiatan tersebut, MKI diwakili Presiden MKI Jo Santosa dan menjalin kerja sama kepedulian terhadap lingkungan hijau dan lestari bersama Iwan Ridwan, SE, yang diketahui sebagai Kepala UPT PS TPA Pasirbajing, serta kelompok aksi dari perwakilan Petugas Jaga Leuweung Unit Banyuresmi.
Kolaborasi tersebut dipandang strategis karena mempertemukan sejumlah unsur, mulai dari petugas kehutanan, penyedia bibit kawung, hingga pemangku lahan yang menjadi lokasi penanaman.
MKI menilai sinergi tersebut dapat menjadi model aksi bersama dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus mendorong pemanfaatan tanaman kawung secara berkelanjutan.
MKI menegaskan bahwa kegiatan penanaman pohon tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Rangkaian kegiatan direncanakan dilakukan secara simultan, mulai dari penyemaian bibit kayu dan buah, pemetaan lokasi tanam, proses penanaman, hingga pemeliharaan tanaman.
Bahkan, pemeliharaan direncanakan dilakukan dalam jangka panjang, minimal lima tahun ke depan.
Konsep tersebut menjadi penting karena keberhasilan rehabilitasi lingkungan tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga tingkat keberlangsungan hidup tanaman setelah ditanam.
Pohon kawung dipilih karena memiliki berbagai manfaat ekologis sekaligus ekonomi. Selain berfungsi sebagai bagian dari vegetasi hijau, aren memiliki potensi ekonomi melalui pemanfaatan ijuk, daun, lidi, serta nira yang dapat diolah menjadi berbagai produk seperti gula cair, gula cetak, dan gula semut.
“Dipandang strategis kegiatan taktis antara petugas Jaga Leuweung, pihak penyedia bibit kawung dan pemangku lahan. Pohon kawung merupakan tanaman serbaguna dan penuh manfaat,” sambung Jo Santosa.
Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari cita-cita besar MKI untuk mendorong penanaman satu juta pohon kawung di Garut, Jawa Barat, Indonesia.
Target tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperbanyak populasi pohon kawung, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
MKI menyadari bahwa aksi di lapangan tidak selalu berjalan mudah. Berbagai kendala teknis dan kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri. Namun, persoalan tersebut tidak ingin dipandang sebagai penghalang untuk terus bergerak.
“Memang selalu banyak kendala lapangan dan teknis, namun diusahakan tidak dipandang sebagai halangan,” tegasnya.
Bagi MKI, menjaga hutan dan menanam pohon merupakan investasi ekologis jangka panjang. Karena itu, gerakan tersebut dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak yang terdampak maupun memiliki kepedulian terhadap perubahan iklim.
Semangat tersebut dirangkum dalam semboyan “Leuweung Hejo, Rakyat Bisa Ngejo”, yang bermakna bahwa kelestarian hutan diharapkan berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat.
MKI juga membawa filosofi “Jadilah seperti pohon Kawung, dan jadilah seperti Harimau Penjaga Hutan dan Kawung-nya”, yang dirangkum dalam ungkapan “Kun Kal Kawung, Wa Kun Kal Maung.”
Gerakan satu juta pohon kawung pun diharapkan tidak sekadar menjadi target angka, tetapi menjadi gerakan ekologis yang tumbuh dari kolaborasi masyarakat, pemerintah, pengelola lahan, komunitas, dan para pemerhati lingkungan untuk membangun Garut yang lebih hijau dan lestari.
***Red
MKI Ambil Sikap Hadapi Perubahan Iklim, Dorong Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon Kawung di Garut


















