GARUTNEWSTODAY.ID – OPINI – Jika selama ini Garut lebih sering diperkenalkan melalui Gunung Papandayan, Talaga Bodas, Cipanas, dodol dan berbagai wisata pegunungan, sudah waktunya cara pandang itu diperluas. Garut memiliki wajah lain yang jauh lebih liar, eksotis dan penuh potensi: wajah laut selatan. Dari Pantai Rancabuaya, Citanggeuleuk, Cijeruk, Karangpapak, Santolo, Sodong Lalay, Taman Manalusu hingga Puncak Guha, Garut sesungguhnya memiliki bentang wisata pesisir yang dapat menjadi identitas baru bagi Kabupaten Garut. Bahkan, Dinas Perhubungan Kabupaten Garut mencatat sejumlah titik pantai di wilayah selatan yang tersebar dari Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti hingga Bungbulang.
Rancabuaya menjadi salah satu pintu penting untuk membaca wajah laut Garut. Pantai yang berada di Kecamatan Caringin ini berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan memiliki karakter ombak besar serta lanskap pesisir yang dramatis. Rancabuaya bukan sekadar tempat menikmati deburan ombak, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat pesisir dan nelayan. Pemerintah Kabupaten Garut sendiri pernah menekankan pentingnya kebersihan, kondusivitas dan penguatan kembali daya tarik wisata Rancabuaya melalui kegiatan budaya masyarakat nelayan. Namun, kawasan ini juga mengingatkan kita bahwa laut selatan memiliki karakter alam yang harus dihormati. Pada 2024, gelombang pasang di Rancabuaya bahkan berdampak terhadap lebih dari 515 kepala keluarga. Artinya, pengembangan wisata harus berjalan bersama mitigasi bencana dan keselamatan.
Dari Rancabuaya, kita menemukan wajah berbeda di Puncak Guha. Di tempat ini wisatawan tidak datang untuk mencari hamparan pasir, melainkan berdiri di atas tebing yang langsung menghadap laut lepas. Puncak Guha berada di wilayah Bungbulang dan dikenal dengan panorama Samudra Hindia dari ketinggian. Nama “Guha” berkaitan dengan keberadaan gua alami di bawah tebing. Bagi saya, Puncak Guha merupakan salah satu contoh bagaimana Garut memiliki lanskap wisata yang tidak bisa diseragamkan: ada pantai berpasir, ada karang, ada teluk, dan ada tebing yang menjadi balkon alami untuk menyaksikan keluasan laut.
Lalu ada Pantai Cijeruk, sebuah destinasi yang menawarkan suasana lebih tenang dan alami. Cijeruk memperlihatkan bahwa potensi Garut Selatan bukan hanya pada pantai yang sudah terkenal, tetapi juga pada kawasan-kawasan yang masih relatif tersembunyi. Lanskap perbukitan, pasir dan air laut yang jernih menjadi modal alam yang kuat untuk dikembangkan menjadi wisata berbasis pengalaman. Namun justru karena karakter alaminya, pembangunan di kawasan seperti Cijeruk tidak boleh dilakukan secara serampangan. Akses, sanitasi, keselamatan, tata ruang, perlindungan ekosistem dan keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi satu kesatuan kebijakan.
Pantai Citanggeuleuk di Karangwangi, Kecamatan Mekarmukti, adalah contoh lain bahwa “hidden gem” Garut Selatan bukan sekadar istilah promosi. Pantai ini memiliki tebing-tebing karang yang menjadi ciri khas visual dan memberikan pengalaman berbeda dibanding pantai berpasir. RRI pada 2026 juga menyoroti Citanggeuleuk sebagai salah satu pesona tersembunyi pesisir Garut Selatan yang masih alami. Jika dikembangkan dengan pendekatan yang tepat, destinasi seperti Citanggeuleuk dapat menjadi magnet wisata minat khusus, fotografi alam, camping dan perjalanan eksplorasi. Tetapi sekali lagi, promosi harus dibarengi pengelolaan. Jangan sampai popularitas datang lebih cepat daripada kesiapan fasilitas dan keselamatan.
Kemudian ada Pantai Sodong Lalay, masih di kawasan Karangwangi, Mekarmukti. Karakter pantai ini semakin mempertegas keragaman bentang pesisir Garut. Sodong Lalay dikenal dengan pasir berwarna gelap, batu karang, tebing berumput dan keberadaan gua-gua yang menjadi habitat burung walet. Suasana relatif tenang dan panorama matahari terbenam menjadi daya tarik tersendiri. Pemerintah Kabupaten Garut melalui data Dinas Perhubungan juga memasukkan Sodong Lalay sebagai salah satu titik pantai di Kecamatan Mekarmukti. Bagi saya, Sodong Lalay adalah contoh destinasi yang tidak perlu dipaksakan menjadi wisata massal. Justru kekuatan utamanya dapat diletakkan pada konsep ekowisata, wisata minat khusus dan wisata berbasis masyarakat.
Bergerak ke kawasan Cikelet, kita bertemu dengan Pantai Karangpapak dan Pantai Santolo. Karangpapak memiliki karakter pesisir yang menarik, tetapi juga menyimpan pelajaran penting tentang keselamatan wisata. Pada Oktober 2025, terjadi kecelakaan laut di kawasan tersebut yang menyebabkan satu wisatawan meninggal dunia. Fakta ini harus menjadi alarm bahwa promosi pantai tidak boleh hanya berbicara tentang keindahan foto dan jumlah pengunjung. Setiap kawasan wisata laut harus memiliki standar keselamatan, informasi zona berbahaya, petugas penyelamat, rambu, edukasi wisatawan dan sistem respons cepat.
Santolo adalah cerita yang lebih besar lagi. Ia bukan hanya pantai, tetapi juga ruang sosial, ekonomi dan budaya masyarakat pesisir. Pada Juli 2026, masyarakat dan nelayan Santolo menggelar tradisi tasyakur dengan tema “Ngarumat Sagara Ngamumule Budaya Basisir”—merawat laut dan melestarikan budaya pesisir. Inilah sesungguhnya konsep pariwisata yang harus diperkuat: wisata bukan sekadar menjual pemandangan, melainkan juga menjual cerita, tradisi, kuliner, kehidupan nelayan dan kebudayaan lokal. Bahkan pada Februari 2026, Pemerintah Kabupaten Garut melakukan dialog dengan warga terkait pengelolaan Pantai Santolo dan menegaskan visi menjadikannya destinasi yang aman, tertib, nyaman dan unggul.
Tak kalah menarik adalah Taman Manalusu. Pemerintah Kecamatan Cikelet menggambarkan kawasan ini memiliki garis pantai luas, pasir putih kecokelatan, pepohonan rindang serta gugusan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai biota laut. Nama “Taman Manalusu” justru terasa relevan dengan karakter tersebut: sebuah ruang pesisir yang bukan hanya menyajikan laut, tetapi juga ekosistem. Di sinilah pemerintah harus berhati-hati. Jangan sampai pembangunan fasilitas wisata justru mengorbankan terumbu karang dan habitat yang menjadi daya tarik utamanya. Kalau alamnya rusak, maka produk wisatanya pun pada akhirnya kehilangan nilai jual.
Yang menarik, data terbaru justru memperlihatkan bahwa wisata pantai sedang menemukan momentumnya di Garut. Pemerintah Kabupaten Garut mencatat kunjungan wisatawan pada musim Lebaran 2026 mencapai 255.506 orang, naik sekitar 59,7 persen dibandingkan periode 2025 yang mencapai 159.997 wisatawan. Yang paling mencolok adalah Pantai Santolo yang menjadi destinasi dengan kunjungan tertinggi, yakni 23.368 pengunjung, mengungguli sejumlah destinasi populer lainnya. Pantai Rancabuaya juga mencatat realisasi yang disebut telah mencapai 59 persen dari target tahunan pada periode tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah sinyal pasar bahwa Garut Selatan sedang bergerak menjadi episentrum baru pariwisata Garut.
Data BPS Kabupaten Garut semakin memperkuat gambaran bahwa sektor perjalanan wisata memiliki pasar yang besar. Pada Desember 2025, perjalanan wisatawan nusantara menuju Kabupaten Garut tercatat sekitar 669 ribu perjalanan, meningkat 7,05 persen dibandingkan November. Tingkat Penghunian Kamar hotel juga mencapai 34,71 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas wisata memiliki dampak terhadap ekosistem ekonomi yang lebih luas—akomodasi, kuliner, transportasi, perdagangan, UMKM dan jasa masyarakat. Dengan kata lain, ketika wisata pantai tumbuh, yang seharusnya ikut tumbuh bukan hanya angka kunjungan, tetapi juga pendapatan masyarakat pesisir.
Karena itu, menurut hemat saya, Garut tidak boleh lagi memandang pantai hanya sebagai destinasi wisata musiman. Pemerintah Kabupaten Garut perlu membangun konsep besar “Garut Selatan Coastal Tourism” sebagai koridor wisata yang menghubungkan Rancabuaya–Puncak Guha–Cijeruk–Citanggeuleuk–Sodong Lalay–Karangpapak–Santolo–Taman Manalusu dan berbagai destinasi pesisir lainnya. Setiap pantai tidak harus dipaksa memiliki konsep yang sama. Rancabuaya dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari dan budaya nelayan; Puncak Guha sebagai wisata panorama tebing dan sunset; Citanggeuleuk serta Sodong Lalay sebagai ekowisata dan wisata petualangan; Cijeruk sebagai wisata alam yang tenang; Karangpapak dan Santolo sebagai kawasan wisata keluarga dan bahari; sementara Taman Manalusu dapat diperkuat sebagai wisata pesisir berbasis konservasi.
Inilah saatnya Garut mengubah cara bercerita tentang dirinya sendiri. Garut bukan hanya kabupaten yang menghadap gunung. Garut juga memiliki wajah yang menghadap Samudra Hindia. Di selatan, ada ombak yang tak pernah berhenti, tebing-tebing yang kokoh, pasir yang membentang, terumbu karang, nelayan, budaya pesisir dan masyarakat yang menggantungkan kehidupan kepada laut. Semua itu adalah aset daerah yang jika dikelola dengan tata kelola yang baik dapat menjadi kekuatan ekonomi baru.
Maka, mengenal Garut dari pantai bukan sekadar ajakan berwisata. Ini adalah ajakan untuk melihat masa depan Garut dari arah selatan. Jangan biarkan Rancabuaya hanya menjadi tempat singgah. Jangan biarkan Citanggeuleuk, Cijeruk dan Sodong Lalay tetap menjadi nama yang hanya dikenal para penjelajah lokal. Jangan pula menjadikan Santolo sekadar destinasi ramai ketika Lebaran. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi dan komunitas harus membangun ekosistem wisata yang aman, bersih, berkelanjutan dan menguntungkan masyarakat lokal.
Sebab pada akhirnya, pantai-pantai Garut Selatan bukan sekadar hamparan pasir dan laut. Ia adalah modal sosial, modal ekologis, modal ekonomi dan modal masa depan Kabupaten Garut. Jika dikelola serius, Garut Selatan tidak hanya dikenal karena keindahan pantainya—tetapi dapat dikenal sebagai salah satu kawasan wisata pesisir unggulan Jawa Barat.
Garut punya gunung. Garut punya kawah. Garut punya air panas. Tetapi Garut juga punya laut. Dan mungkin, masa depan pariwisata Garut justru sedang berdebur dari arah selatan.
***GNT


















