Viral! Presiden Pantai Gading Rebahan di Tanah Bersama Jutaan Jamaah Haji, Tanpa Pengawal dan Kemewahan

GARUTNEWSTODAY.COM – MAKKAH – Sebuah pemandangan sederhana namun mengguncang hati umat Muslim dunia mendadak viral di media sosial. Di tengah lautan jutaan jamaah haji yang memadati Tanah Suci, tampak seorang pria lanjut usia berbaring di atas tanah tanpa alas mewah, tanpa penjagaan ketat, dan tanpa sekat kehormatan dunia.

Beliau adalah Alassane Ouattara, Presiden Pantai Gading. Sosok pemimpin rendah hati ini bikin dunia tersentuh: “Di hadapan Allah, jabatan tak ada artinya.”

Momen itu sontak menjadi sorotan publik internasional. Banyak yang tak menyangka, seorang kepala negara memilih menjalani ibadah haji layaknya rakyat biasa. Tidak ada iring-iringan protokoler yang mencolok, tidak tampak pasukan pengawal berlapis, bahkan dikabarkan beliau menolak fasilitas mewah yang biasa disediakan pemerintah Saudi untuk tamu kenegaraan.

Pertanyaan yang kemudian ramai menggema di media sosial pun sederhana, namun menohok:

“Di mana pengawalnya?”

Jawabannya mungkin ada pada cara beliau memimpin negaranya.

Selama kepemimpinan Alassane Ouattara, Pantai Gading disebut mengalami peningkatan stabilitas keamanan, pertumbuhan ekonomi yang signifikan, serta pembangunan nasional yang terus bergerak maju. Kehidupan masyarakat perlahan membaik dan rasa aman tumbuh di tengah rakyatnya.

Banyak netizen menilai, ketenangan seorang pemimpin lahir dari bagaimana ia memperlakukan rakyatnya.

“Pemimpin yang adil akan melahirkan rasa aman. Orang yang menebar ketenangan kepada rakyatnya, Allah karuniakan ketenangan dalam hidupnya,” tulis salah satu unggahan yang viral mengiringi foto tersebut.

Pemandangan Presiden sebuah negara rebahan di atas tanah bersama jutaan manusia tanpa membedakan status sosial seolah menjadi tamparan keras bagi dunia modern yang kerap mempertontonkan kemewahan kekuasaan.

Di Tanah Suci, semua manusia mengenakan kain ihram yang sama. Tak ada singgasana. Tak ada jabatan. Tak ada gelar kebesaran.

Yang tersisa hanyalah seorang hamba di hadapan Tuhannya.

Momen ini pun menjadi pengingat mendalam bahwa kekuasaan sejatinya bukan tentang kemewahan dan pengawalan ketat, melainkan tentang amanah, kerendahan hati, dan keberanian hidup dekat dengan rakyat.

Sebab pada akhirnya, setinggi apa pun jabatan seseorang, semua akan bersujud di tanah yang sama.

***Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *