GARUTNEWSTODAY.ID – GARUT – Dugaan terjadinya kebocoran produksi di lingkungan PTPN I Regional 2, khususnya di Afdeling Pasir Salam, Kebun Bunisari Lendra, menjadi sorotan masyarakat. Aktivitas keluar-masuk barang hasil perusahaan yang diduga tidak melalui mekanisme resmi disebut telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama dan menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas pengawasan internal perusahaan.
Sejumlah warga menilai praktik yang dikenal sebagai losses atau kebocoran produksi tersebut terjadi secara berulang dan seolah tidak mendapatkan penanganan yang tegas. Kondisi itu memunculkan dugaan adanya kelemahan dalam sistem pengawasan yang berpotensi menyebabkan kerugian terhadap aset perusahaan milik negara.
Berdasarkan informasi yang berkembang di tengah masyarakat, aktivitas pengeluaran barang perusahaan diduga berlangsung secara rutin. Situasi tersebut memunculkan dugaan adanya oknum tertentu yang memanfaatkan lemahnya pengawasan untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan mengorbankan kepentingan perusahaan.
Warga menilai apabila dugaan tersebut terbukti benar, maka dampaknya tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga negara sebagai pemilik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Karena itu, masyarakat mendesak manajemen PTPN I Regional 2 Jawa Barat segera melakukan audit menyeluruh, investigasi internal, serta mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti terlibat.
Selain dugaan kebocoran produksi, masyarakat juga menyoroti pola komunikasi manajemen perusahaan dengan lingkungan sekitar. Sejumlah warga menilai pejabat di tingkat afdeling maupun manajemen kebun kurang membuka ruang dialog, kritik, dan komunikasi dengan masyarakat.
Menurut warga, persoalan komunikasi tersebut menjadi penting mengingat pada tahun 2021 pernah terjadi peristiwa yang menimbulkan korban jiwa di area perkebunan yang diduga berkaitan dengan aktivitas ilegal. Masyarakat menilai saat itu terdapat indikasi kurangnya tindakan tegas dalam mengantisipasi situasi yang berkembang di lapangan.
Atas dasar itu, masyarakat bersama sejumlah unsur pemerintah setempat meminta pihak PTPN I Regional 2 Jawa Barat mengambil langkah konkret guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang.
Tidak hanya itu, sebagian warga juga mendorong adanya evaluasi organisasi melalui rotasi atau mutasi sejumlah jabatan strategis di lingkungan Kebun Bunisari. Menurut mereka, langkah tersebut diperlukan untuk memperbaiki tata kelola perusahaan, meningkatkan transparansi, serta membangun hubungan yang lebih harmonis dengan masyarakat dan pemerintah desa di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Kekecewaan warga juga dipicu oleh minimnya manfaat yang dirasakan dari keberadaan perusahaan. Mereka menilai program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) maupun kegiatan pemberdayaan masyarakat belum memberikan dampak yang signifikan bagi lingkungan sekitar.
“Perusahaan seharusnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Apabila tidak ada langkah konkret dari pihak manajemen maupun otoritas terkait, sebagian warga menyatakan akan menyampaikan aspirasi mereka melalui aksi yang lebih luas sebagai bentuk desakan agar persoalan tersebut segera mendapat perhatian.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PTPN I Regional 2 belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kebocoran produksi maupun tuntutan masyarakat mengenai evaluasi manajemen Kebun Bunisari. Untuk menjaga asas keberimbangan dan profesionalisme jurnalistik, media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak perusahaan atas berbagai dugaan yang disampaikan dalam pemberitaan ini.
***Red
Diduga Terjadi Kebocoran Produksi, PTPN I Regional 2 Kebun Bunisari Jadi Sorotan Warga Sekitar


















