GARUTNEWSTODAY.ID – Garut- Program Studi Magister (S-2) Pendidikan Matematika Sekolah Pascasarjana Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut menggelar lokakarya peningkatan kompetensi pendidik di SMK Fauzaniyyah Sukaresmi, Kabupaten Garut, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang diarahkan untuk mengakselerasi transformasi pembelajaran, khususnya melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara bijak dan pedagogis.
Sebanyak 51 guru lintas jenjang mengikuti lokakarya tersebut. Mereka terdiri atas 27 guru SD dari 20 sekolah di Kecamatan Sukaresmi serta 24 guru SMP dan SMA/SMK sederajat dari Kecamatan Sukaresmi dan Kecamatan Bayongbong.
Mengusung tema “SMART EDUCATION: Integrasi Smart Learning & Smart Module Design Berbasis Artificial Intelligence untuk Pembelajaran yang Interaktif, Bermakna, dan Berdampak”, kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus praktik bagi para pendidik.
Sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, yayasan, dan sekolah mitra menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Hadir mendampingi peserta, Wakil Direktur I Pascasarjana IPI Garut Dr. Dian Rahadian, M.Pd., Wakil Direktur II Dr. Jamilah, M.Pd., serta Ketua Program Studi S-2 Pendidikan Matematika Dr. Rostina Sundayana, M.Pd.
Turut hadir Ketua PGRI Sukaresmi Tatang Rahmat, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Yayasan Al Fauzaniyyah Saepulloh, M.Pd., dan Kepala SMK Fauzaniyyah Lutfi Muhammad, S.Pd.Gr.
Ketua Pelaksana PPL, Jakaria, S.Pd.Gr., menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak ditempatkan sebagai forum satu arah, melainkan ruang kolaborasi antarguru.

“Kami hadir bukan untuk merasa paling mengetahui, melainkan untuk belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi demi kemajuan mutu pendidikan, khususnya matematika,” ujar Jakaria.
Dalam lokakarya tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai posisi AI dalam proses pendidikan.
Dr. Dian Rahadian dan Tatang Rahmat menekankan pentingnya kebijaksanaan pedagogis guru dalam menggunakan kecerdasan buatan. AI diharapkan menjadi instrumen yang memperkaya proses pembelajaran, bukan menggantikan peran guru sebagai pendidik.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi AI dalam dunia pendidikan. Guru tetap memiliki posisi strategis dalam membangun karakter, membimbing proses berpikir, membaca kebutuhan peserta didik, serta menciptakan interaksi pembelajaran yang bermakna.
Pelaksanaan lokakarya kemudian dibagi menjadi dua fokus utama, yakni Smart Module Design untuk guru jenjang SMP/SMA/SMK dan Smart Learning untuk guru SD.
Pada kelas Smart Module Design, para guru jenjang menengah mendapatkan materi mengenai penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM) berbasis AI yang disampaikan Wirda Hasanah Waridah, S.Pd., Gr.
Peserta juga mendapatkan pelatihan pembuatan media pembelajaran interaktif digital menggunakan platform Genially, yang dipandu Senja Ayu Adzani, S.Pd., Gr.
Sementara itu, Dr. Rostina Sundayana memberikan penguatan mengenai strategi asesmen di era AI.
Menurutnya, evaluasi pembelajaran tidak semestinya hanya berorientasi pada benar atau salahnya jawaban akhir. Asesmen perlu mampu mengukur proses berpikir, penalaran, pemahaman konsep, hingga kemampuan peserta didik dalam mempertanggungjawabkan strategi penyelesaian masalah.
Pada kelas Smart Learning, sebanyak 27 guru SD diajak mengeksplorasi pembelajaran matematika berbasis pengalaman konkret.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengikis stigma bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang kaku, sulit, dan abstrak.
Dr. Rostina Sundayana menekankan bahwa pembelajaran matematika pada jenjang sekolah dasar perlu berpijak pada pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan anak.
“Matematika harus hadir melalui pengalaman yang dapat dilihat, disentuh, dan dipraktikkan sehingga konsep yang abstrak menjadi lebih mudah dipahami,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam sesi tersebut.
Materi kemudian dilanjutkan dengan simulasi penggunaan berbagai media konkret yang dipandu fasilitator Euis Sumiati, S.Pd.Gr. dan Eva Nurfarida, S.Pd.Gr.
Para guru tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mempraktikkan penggunaan media pembuktian sudut, kartu domino matematika, papan garis bilangan, serta berbagai media visual pembelajaran lainnya.
Tidak berhenti pada pelatihan, Pascasarjana IPI Garut juga mendorong keberlanjutan program melalui pemberian fasilitas pembelajaran.
Panitia memberikan buku karya mahasiswa pascasarjana kepada peserta yang dinilai aktif selama kegiatan.
Lebih dari itu, berbagai jenis alat peraga matematika konkret dihibahkan secara cuma-cuma kepada 20 sekolah dasar peserta.
Alat peraga tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai simbol bantuan, tetapi benar-benar dimanfaatkan guru dalam proses pembelajaran di kelas.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan nyata satuan pendidikan.
Dengan demikian, kegiatan PPL mahasiswa Pascasarjana IPI Garut tidak hanya berorientasi pada pemenuhan agenda akademik, tetapi diarahkan untuk memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas guru dan kualitas pembelajaran di sekolah.
Pendidikan bermutu tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi juga guru yang mampu menggunakannya dengan tepat, kritis, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
***Red











