GARUTNEWSTODAY.ID – GARUT – Hamparan sawah hijau yang membentang di kaki langit Garut menjadi saksi sebuah momen yang tak sekadar perpisahan, melainkan perjalanan menuju babak baru kehidupan. Tak ada gemerlap panggung mewah. Tak ada pesta yang menguras biaya. Namun suasana haru yang tercipta justru mampu mengetuk hati siapa pun yang hadir.
Bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, keluarga besar Yayasan Amanah Aminah Maemunah menggelar acara pelepasan siswa SMP Terpadu Ma’arif Al-Maemunatul Huda dan SMK K.H. Hasyim Asy’ari di Kafe & Resto Salegar, Selasa (16/6/2026).
Sejak awal acara, suasana khidmat begitu terasa. Para guru, orang tua, pembina yayasan, dan siswa larut dalam nuansa penuh syukur dan harapan. Di balik senyum kebanggaan para orang tua, tersimpan air mata haru yang tak mampu disembunyikan. Air mata perjuangan, pengorbanan, dan doa yang selama bertahun-tahun mengiringi langkah anak-anak mereka menuju hari kelulusan.
Bagi banyak orang tua, momen ini bukan sekadar seremoni sekolah. Ini adalah puncak perjuangan panjang. Perjuangan mencari biaya pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi, perjuangan mengantar anak menuntut ilmu setiap hari, hingga perjuangan memanjatkan doa dalam setiap sujud agar sang buah hati kelak menjadi manusia yang berguna.
Kepala SMP Terpadu Ma’arif Al-Maemunatul Huda, Dewi Diyanti, menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mencetak generasi cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan manusia yang memiliki akhlak mulia dan hati nurani yang kuat.
“Kami berharap anak-anak dapat menjaga nilai-nilai yang telah diajarkan selama di sekolah. Hormati orang tua, muliakan guru, cintai sesama, dan jadilah pribadi yang bermanfaat di mana pun berada,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, yayasan juga memberikan penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kerja keras mereka selama menempuh pendidikan. Tak hanya itu, penghargaan khusus juga diberikan kepada para guru yang telah menunjukkan loyalitas dan pengabdian luar biasa dalam mendidik generasi bangsa.
Tahun ini, SMK K.H. Hasyim Asy’ari meluluskan 30 siswa Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Mereka dilepas dengan harapan menjadi generasi kreatif, inovatif, mandiri, serta mampu bersaing di era digital tanpa kehilangan identitas sebagai insan yang beriman dan berakhlakul karimah.
Di bawah kepemimpinan Lutfi Wassi, S.I.P., M.Pd., Yayasan Amanah Aminah Maemunah terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan Islam yang berkualitas, terjangkau, dan berintegritas. Sejak berdiri pada 9 Oktober 2019, yayasan ini dikenal konsisten menjunjung tinggi prinsip transparansi dan menolak segala bentuk praktik pungutan liar demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Acara pelepasan juga dihadiri Pembina dan Pendiri Yayasan, Ir. Deni Ranggajaya, tokoh Nahdlatul Ulama Kabupaten Garut yang selama ini dikenal aktif memperjuangkan pendidikan berbasis keagamaan dan karakter.
Dalam pesan yang menyentuh hati para hadirin, ia mengajak seluruh lulusan menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
“Anak-anakku, hari ini kalian melangkah keluar dari gerbang sekolah. Tetapi jangan pernah keluar dari nilai-nilai yang telah diajarkan guru-guru kalian. Teruslah belajar, jaga akhlak, hormati kedua orang tua, dan jangan pernah berhenti berbuat baik. Sebab ilmu yang tinggi akan kehilangan maknanya jika tidak dibarengi dengan adab,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar para lulusan tidak melupakan asal-usul ketika kelak meraih kesuksesan.
“Jika suatu hari kalian berhasil mencapai cita-cita, jangan pernah lupa dari mana kalian berasal. Kembalilah untuk memberi manfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan kebaikan bagi sesamanya,” tuturnya.
Pelepasan tahun ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dibalut kemewahan. Justru dari kesederhanaan lahir ketulusan yang begitu dalam. Dari tepian sawah yang tenang, para siswa dilepas dengan pelukan harapan, iringan doa, dan restu yang mengalir dari hati para guru serta orang tua.
Mereka meninggalkan bangku sekolah bukan hanya membawa selembar ijazah, tetapi juga membawa amanah besar untuk menjaga nama baik keluarga, almamater, agama, dan masyarakat.
Air mata akan mengering. Acara perpisahan akan berlalu. Namun doa-doa orang tua dan ketulusan guru akan terus menyertai setiap langkah mereka.
Dari Kafe & Resto Salegar, di awal Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, generasi emas itu memulai hijrahnya. Menjemput mimpi, menggapai cita-cita, dan menapaki masa depan dengan cahaya ilmu, akhlak, serta keimanan sebagai kompas kehidupan.
“Selamat melangkah para pejuang masa depan. Langit mungkin batas bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang berilmu dan berakhlak, langit hanyalah awal dari perjalanan.” Pungkasnya.
***Red

















