Kurban Presiden Fantastis Rp100 Miliar Jadi Sorotan, Pelosok Garut Mengaku Belum Rasakan Dampaknya

GARUTNEWSTODAY.ID – GARUT – Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang disebut menggelontorkan anggaran sekitar Rp100 miliar dari APBN untuk pengadaan 1.098 ekor sapi kurban Idul Adha 2026 mulai menuai sorotan publik. Di tengah gencarnya narasi pemerataan dan keberpihakan kepada rakyat kecil, masyarakat di sejumlah pelosok Kabupaten Garut justru mengaku belum merasakan dampak nyata dari kebijakan besar tersebut.

Program kurban berskala nasional itu memang dipromosikan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat. Namun di daerah-daerah terpencil Garut selatan, sebagian warga masih menghadapi persoalan mendasar seperti akses jalan rusak, layanan kesehatan terbatas, hingga kondisi ekonomi yang belum stabil pasca tekanan harga kebutuhan pokok.

“Kalau anggarannya sampai ratusan miliar, tentu masyarakat berharap ada dampak langsung yang terasa. Jangan sampai hanya ramai di media sosial, tapi rakyat di kampung tetap kesulitan,” ujar seorang tokoh masyarakat di wilayah selatan Garut.

Perdebatan pun muncul di ruang publik. Sebagian menilai program kurban negara merupakan simbol kepedulian sosial dan penguatan ketahanan peternak lokal. Namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan prioritas penggunaan APBN di tengah masih banyaknya kebutuhan mendesak masyarakat daerah.

Informasi mengenai penggunaan APBN untuk pengadaan sapi kurban Presiden menjadi perhatian luas setelah sejumlah media dan unggahan publik menyebut total anggaran mencapai sekitar Rp100 miliar untuk distribusi hewan kurban ke berbagai wilayah Indonesia.

Di Kabupaten Garut sendiri, warga berharap perhatian pemerintah pusat tidak berhenti pada seremoni tahunan. Mereka meminta agar pembangunan infrastruktur desa, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan mendapat perhatian yang sama besarnya.

“Bukan menolak kurban, tapi rakyat juga butuh bukti nyata bahwa uang negara benar-benar kembali untuk kesejahteraan masyarakat bawah,” kata warga lainnya.

Sorotan ini menjadi pengingat bahwa di tengah program-program besar bernilai fantastis, masih ada suara masyarakat pelosok yang berharap negara hadir bukan hanya dalam simbol, tetapi juga dalam solusi nyata bagi kehidupan sehari-hari.

***Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *